Perjalanan Umrah Bersama NRA, ke Tanah Suci  (2)  Banting Tulang Tak Cukup Uang, Tapi Haji dan Umrah
Perjalanan Umrah Bersama NRA, ke Tanah Suci  (2)  Banting Tulang Tak Cukup Uang, Tapi Haji dan Umrah

Pencarian

  • Feed
,
IMG-20191125-WA0013.jpg

Perjalanan Umrah Bersama NRA, ke Tanah Suci (2) Banting Tulang Tak Cukup Uang, Tapi Haji dan Umrah

Keterangan Foto : KENANG SEJARAH : Penulis (tiga kiri) bersama jamaah umrah daerah lainnya di depan Bukit Jabal Tsur, Makkah. Di sinilah ribuan jamaah seluruh dunia berfoto dan mengingat sejarah Nabi Muhammad ketika dikejar oleh sekelompok kafir qurais untuk dibunuh.
image
Kabar Kubar Mahulu
1 Tahun lalu
Wisata
316 View
0 Comments

Tidak semua Warga Negara Indonesia (WNI) berdomisili dan bekerja di Arab Saudi itu mudah. Terkadang, uang diperoleh dari hasil kerja tidak bisa dibawa pulang. Alias gali lubang tutup lubang.

 

 

LANTAS bagaimana kondisi WNI yang bekerja maupun tinggal di Arab Saudi. Misalnya, Ustad Effendi Al Batawi (51), pembimbing NRA selama ibadah umrah di Tanah Suci. Dia warga asli Jakarta. Sudah tinggal di Arab Saudi sejak 2001 atau 18 tahun silam. Berprofesi sebagai sopir. Banting stir, menjadi pendamping jamaah umrah maupun haji dari beberapa biro perjalanan Indonesia. Hanya berbekal pengetahuan agama dan fasih berbahasa Arab. 

 

“Saya lulusan SMA di Jakarta. Setelah menikah 2000, setahun kemudian langsung pindah bersama istri ke Arab Saudi, di Kota Makkah,” kata Ustad Effendi. Istrinya, awalnya pelajar di Arab Saudi. Saat pulang ke Indonesia itulah bertemu Effendi lantas keduanya menikah. Hingga kini telah dikarunia 5 anak. Semuanya menempuh pendidikan di Arab Saudi. Sebagai pendamping perjalanan haji dan umrah, memperoleh penghasilan rata-rata per bulan sebesar Arab Saudi Riyal (SAR) 10.000 atau setara Rp 40 juta (1 SAR, sekitar Rp 4 ribu). “Rutin saja, hampir 3 biro perjalanan yang dilayani per bulan. Satu biro perjalanan haji dan umrah mendapatkan jasa berkisar SAR Rp 1.500 atau setara Rp 6 juta,” katanya. 

 

Namun dibalik besarnya pendapatan itu, belum dikatakan cukup. Jika ingin menyisihkan menjadi simpanan atau tabungan.

 

 

Selama di Makkah, harus membayar kontrak apartemen setahun atau 12 sebesar SAR Rp 8.000 atau setara Rp 32 juta. Sisanya habis membayar rekening listrik, air dan membeli kebutuhan pokok. Yang sangat menjadi beban adalah diwajibkan membayar pajak per anggota keluarga. Pada 2017, satu jiwa wajib membayar kepada pemerintah Arab Saudi SAR Rp 100 atau setara Rp 400 ribu. Besaran pajak ini terus meningkat. Hingga 2019 ini mencapai SAR Rp 400 atau setara Rp 1,6 juta per jiwa. Belum lagi diwajibkan bayar pajak 5 persen dari setiap transaksi.

 

“Mudah-mudahan tahun depan atau 2020, semua pajak ini dihapus oleh pemerintah Arab Saudi. Jika tidak, sama saja kita (WNI), secara halus ditolak kehadirannya berdomisili di Arab Saudi. Karena besarnya biaya pajak sangat membebani hidup,” ungkapnya. 

 

Belum lagi biaya memperpanjang Visa. Makanya, kata dia, sudah banyak WNI yang pulang ke kampung (Indonesia). Akibat besarnya biaya di Arab Saudi. Sementara penghasilan yang diperoleh tidak bisa menutupi.  “Bayangkan saja, sampai saat ini saya belum bisa pulang bersama keluarga ke Indonesia. Karena harus menyiapkan dana besar kalau mau pulang. Minimal Rp 30 juta atau 40 juta,” ungkapnya.

 

 

Selama di Arab Saudi, hanya keluarga di Indonesia yang mendatanginya. Sekalian melaksanakan ibadah umrah dan haji. “Ibu saya sudah dua kali mendatangi saya di sini (Makkah). Sekalian melaksanakan ibadah haji,” terangnya.

 

Meski begitu, lanjut dia, biaya pendidikan dan kesehatan selama tinggal di Arab Saudi digratiskan oleh pemerintah Arab Saudi. Berbeda dengan Indonesia, kegiatan pendidikan setiap, Jumat dan Sabtu diliburkan. 

 

Berkah dari pekerjaan ini, menurut dia, menjadikan beribadah haji dan umrah menjadi gratis. Karena bekerja di biro perjalanan haji dan umrah harus mendampingi para jamaah yang melaksanakan ibadah di Tanah Suci "Saya harus memimpin tahapan ibadah umrah dan haji kepada jamaah yang didampingi," katanya.


Lain halnya dengan Hafif Yadi (30) warga Lombok, Nusa Tenggara Timur. Dia bekerja sebagai pembersih kaca di Masjidil Haram, Makkah. Hingga kini baru 1,4 tahun bekerja dari kontrak 2 tahun atau sejak 28 Juni 2017. “Rencana saya mau memperpanjang lagi kontrak kerja di sini (Masjidil Haram),” kata Hafit, disela-sela kegiatannya membersihkan kaca di Masjidil Haram.

 

Dia mengaku, bekerja di gaji SAR 700 atau setara Rp 2,8 juta. Dari penghasilan itu, Hafit hanya pemondokan disediakan. Untuk uang makan membeli sendiri. “Rata-rata sebulan harus menyisihkan biaya makan di sini (Makkah) sebesar SAR 200 atau setara Rp 800 ribu. Sisanya hanya SAR 500 yang bisa disimpan/ditabung,” katanya.

 

Namun dari sisa dana itu, dia pun berkewajiban kepada agen yang memberangkatkannya. “Kalau dibilang cukup sih, sangat tidak. Tapi mau tidak mau harus menyisihkan dana untuk agen yang memberangkatkan di Jakarta,” ungkapnya. Apalagi, permohonan bekerja di Arab Saudi  ini sudah antre sejak 2016 lalu.  

 

Jika sakit, kata dia, justru mendapatkan biaya pengobatan SAR 500. Dana ini jika lebih, akan menjadi miliknya. “Ini saja sih untungnya. Kalau sakit mengeluarkan biaya di bawah SAR 500, selebihnya buat saya,” katanya.
Suka duka bekerja di Masjidil Haram? Hafit mengaku, jika hujan pekerjaan menjadi sangat berat. Di kala hujan itulah, harus bekerja maksimal. “Tidak boleh istirahat karena akan diawasi petugas di Masjidil Haram. Meski hujan sekali setahun,” terangnya.

 

Jika sukanya, sembari bekerja bisa sambil ibadah. Menurut informasi diterimanya, yang bekerja di Masjidil Haram dari Indonesia sebanyak 100 orang. “Bekerja di sini dibagi 3 shift. Satu shift bekerja hanya 8 jam, selebihnya istirahat di pemondokan,” katanya. (bersambung)

Kabar Sebelumnya

(0) Komentar


Tinggalkan Komentar