Melahirkan, Cemburu, Cekik Bayi, Dipolisikan Kok Gangguan Jiwa
Melahirkan, Cemburu, Cekik Bayi, Dipolisikan Kok Gangguan Jiwa

Pencarian

  • Feed
,
InShot_20200614_164957555.jpg

Melahirkan, Cemburu, Cekik Bayi, Dipolisikan Kok Gangguan Jiwa

Keterangan Foto : JADI PELAJARAN : Bayi tak berdosa malah jadi korban. Hanya karena cemburu.
image
Kabar Kubar Mahulu
11 Bulan lalu
Hukum
377 View
0 Comments

BERITA KUBAR - Penyair sufi Jalaludin Rumi dalam satu syairnya berucap bahwa cinta itu ibarat air. Kita tidak bisa hidup tanpanya. Pun kita bisa mati karenanya. Cinta adalah sumber kebahagian, tapi juga sumber kekecewaan. Mereka yang kecewa begitu dalam karena cinta bahkan bisa berlaku seperti binatang. Bahkan bisa lebih mengerikan dari binatang.

EF mungkin satu dari banyaknya contoh korban cinta yang membuat dirinya berlaku lebih kejam dari binatang. Dia adalah warga kawasan Perumahan Handil Kopi, Pelita IV, Sambutan, Samarinda Provinsi Kalimantan Timur.

Meskipun cerita cinta EF kali ini dibumbui aroma pengkhianatan. Hanya karena dikecewakan oleh kekasihnya —bukan suaminya— wanita 25 tahun ini melampiaskan amarahnya kepada bayi mungil laki-laki yang baru dia lahirkan 8 hari sebelumnya.

Ironisnya, aksi kekejamannya itu justru ia unggah di akun WhatsApp (WA) stories atau status WA miliknya. Walhasil ponsel yang menyimpan nomor WA EF bisa menyaksikan aksi biadab itu. Video ini pun dengan mudah menyebar ke berbagai group WA secara berantai. Konon aksi itu dia rekam sendiri.

 

Lalu EF menyebarkan dua video itu. Masing-masing berdurasi 11 detik dan yang berdurasi 24 detik. Dalam video itu EF mencekik dan menampar bayinya. Tak ayal, video ini memancing respons dan kecaman. “Kok kejam sekali. Anak dicekik dan ditampar begitu. Mending anaknya diberikan kepada orangtua yang menginginkan, daripada disiksa begitu,” kata Hendri, seorang warga.

Petugas kepolisian dari Polsek Samarinda Kota bersama organisasi pemerhati anak yang mengetahui kejadian tersebut langsung menuju lokasi penyiksaan di kawasan Perumahan Handil Kopi, Pelita IV, Sambutan, kemarin. Saat didatangi, EF menangis dan takut.
Dihadapan petugas, EF mengakui mengunggah sendiri video tersebut. Ia tidak menyangka video itu bakal menyebar. Kekerasan yang ia lakukan terhadap buah hatinya itu, dilatarbelakangi rasa sakit hati kepada kekasihnya berinsial IP. Menariknya, IP adalah pria idaman lain (PIL) EF.

EF mengaku jika buah hati yang baru ia lahirkan di Rumah Sakit Bhakti Nugraha, 2 Juni lalu itu, merupakan hasil hubungan gelapnyanya dengan IP, sang kekasih. Namun IP justru tidak mengakuinya. EF sebenarnya memiliki suami resmi. Hasil pernikahan dengan suaminya itu sudah dikaruniai anak juga. Di sisi lain, IP mengaku mencintai EF, meski orang yang dicintainya itu sudah milik pria lain. Tak ayal kisah cinta EF dan IP terhalang restu keluarga. Pihak keluarga menginginkan EF tetap bersama suami sahnya. Entah dipicu IP atau bukan, hubungan EP dan suaminya selama ini sudah berstatus rumit. Istilahnya pisah ranjang.

Emosi yang memancing EF berbuat biadab dengan buah hatinya berawal dari postingan IP di salah satu grup WA yang keduanya ikuti. Di grup WA itu, IP memosting dirinya berfoto mesra dengan wanita lain. “Ini yang bikin saya jengkel,” kata EF. Namun EF berkilah telah melakukan penyiksaan kepada anaknya. Katanya, dia hanya sekadar memegang bayinya. Bukan bermaksud menyiksa. “Cuma saya pegang-pegang saja,” kilah EF.

Sementara tetangga EF justru menuturkan sebaliknya. Perangai EF diketahui sangat labil dan temperamental. Bahkan orangtuanya sudah tidak sanggup mengurus EF. EF pun dibiarkan tinggal sendiri di rumahnya bersama anak yang baru dilahirkan itu.

Emi (34), tetangga EF, mengatakan jika bukan kali ini saja EF berlaku tidak wajar terhadap anaknya. Kata Emi, EF juga sangat kasar dengan anak pertamanya. Bahkan, EF pernah memasang status di media sosial yang berniat menjual anak pertamanya itu. Namun aksi itu diketahui orangtua EF. “Setelah itu, anak pertamanya diasuh orang tua EF,” kata Emi.

Kepada media Samarinda Pos, grup Kaltim Post, Kapolsek Samarinda Kota Kompol Yuliansyah melalui Kanit Reskrim Iptu Abdilah Dalimunthe mengatakan, pihaknya akan melakukan pendalaman kasus dan membawa bayi tersebut ke RSUD AW Syahranie untuk menjalani visum. Kata Dalimunthe, visum dilakukan untuk memastikan tindakan kekerasan yang diduga dilakukan EF terhadap anaknya. “Selain beracuan lewat video, perlu hasil visum untuk mempertegas dugaan,” kata Dalimunthe.

Selain menunggu hasil pemeriksaan, kepolisian juga akan memeriksa kondisi kejiwaan EF. Untuk sementara, bayi EF tersebut ditampung di Yayasan Rumah Aman di Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Timur, Samarinda Utara. “Kasus ini masih kami dalami Dalimunthe.

 

DIDUGA GANGGUAN JIWA

Aksi merekam sambil mencekik bayinya yang baru berusia 8 hari, dilakukan EF. Kekejaman EF kepada bayinya itu mengisyaratkan jika sang ibu muda tersebut terindikasi mengalami gangguan kesehatan kejiwaan. Tidak hanya mencekik, EF juga menampar dan memukul putranya tersebut.

Perbuatan keji itu dilakukan EF Rabu (10/6/2020) pagi lalu. Dilakukan sambil merekam lalu di-upload di story WhatsApp (WA). Walhasil, dua video berdurasi 11 detik dan 24 detik itu tersebar. Psikolog Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Rahmadani masih memeriksa kondisi psikis EF. Dugaan awal, EF mengalami sindrom baby blues. Merupakan keadaan psikologis sementara setelah melahirkan, ketika seorang ibu baru mungkin mengalami perubahan suasana hati yang mendadak, merasa sangat bahagia, kemudian sangat sedih, menangis tanpa alasan yang jelas, merasa tidak sabar, sangat mudah tersinggung, resah, cemas dan merasa kesepian.

“Dugaan sementara baby blues. Tetapi kami perlu waktu untuk memeriksa,” katanya. Pernyataan ini sekaligus menepis bahwa EF juga seorang psikopat. Sindrom ini memang umum diderita ibu yang baru melahirkan. Sekitar 70-80 persen ibu baru akan mengalami perasaan tak enak dan perubahan suasana hati.

 

Gejala baby blues pada seorang ibu meliputi kelelahan, kesulitan tidur, mudah marah, hingga sulit berkonsentrasi. Kondisi ini biasanya berlangsung dua pekan setelah melahirkan. Penyebab baby blues belum diketahui secara pasti. Kendati demikian, baby blues berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan kembali setelah bayi lahir.

“Kalau dugaan psikopat masih begitu dini untuk kita bisa pastikan. Karena usianya juga masih muda, faktornya adalah karena bisa jadi kelelahan emosional dan kelelahan fisik. Yang memang sangat rentan sekali dan ketika ada pemicunya bisa jadi dia marah,” jelasnya.
Dugaan sindrom baby blues yang dialami EF dikarenakan emosi yang tak dapat dilampiaskannya. Sehingga sang bayi yang ada di dekatnya menjadi tempat pelampiasan amarahnya.

Dengan kondisi emosional EF yang belum stabil, ia meminta agar pihak keluarga maupun orang terdekat, untuk tidak menghakimi dan memberikan pernyataan yang justru memperburuk kondisi EF. “Masyarakat juga saya harap tidak menghakimi dan memberikan statement negatif yang sebenarnya bisa memperburuk kondisi si ibu,” ungkapnya.

Wanita yang juga menjabat Koordinator Psikolog Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Unit Pelaksana Tekhnis Perlindungan Perempuan dan anak (UPT PPA) Kota Samarinda ini masih melakukan pendampingan kepada EF.
“Proses assesmen masih berjalan. Saya tidak berani mengeluarkan pernyataan resmi. Tetapi arahnya diduga baby blues,” ucapnya.

Ayunda menerangkan, dalam proses pendampingan psikologis, pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu memulihkan kondisi fisik dengan memberikan asupan gizi yang cukup. EF harus ditempatkan di tempat yang aman dan kondusif. EF diperlukan agar kondisi emosionalnya kembali stabil. Caranya dengan mendapat dukungan moril dari orangtua maupun orang terdekatnya. Pemisahan tempat sang ibu dengan bayinya merupakan cara terbaik untuk saat ini. Selain agar bayi bisa mendapatkan perawatan yang optimal, sang ibu juga dapat memulihkan fisik dan emosionalnya dengan cepat.

“Biar bagaimanapun kondisi sang ibu dan anak harus tetap bersama tetapi saat ini masing-masing perlu dipulihkan,” terangnya.
Kasus ini juga sudah ditangani Polsek Samarinda Kota. EF, warga Kecamatan Sambutan, belum dapat dimintai keterangan. Visum juga sudah dilakukan kepada bayi laki-laki berinisial MF. Kini MF masih dititipkan di Yayasan Rumah Aman di Bengkuring, Sempaja. Hingga Kamis sore (11/6/2020), polisi pun masih menunggu hasil visum bayi.

“Kalau pengakuan awal, dia spontan saja melakukan itu. Terkait syndrom baby blues, sekarang masih dilakukan pendampingan,” kata Kapolsek Samarinda Kota Kompol Yulianstah melalui Kanit Reskrim Iptu Abdillah Dalimunthe. Hingga kini pihaknya belum dapat memastikan terkait kelanjutan kasus tersebut. Apakah ke ranah hukum apabila pelaku benar-benar mengalami sindrom baby blues, saat ini kepolisian masih menunggu hasil visum. “Bagaimana kelanjutannya, kita akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait,” katanya.

 
BAYI MEMBAIK

Hasil visum bayi yang disiksa oleh ibu kandungnya akhirnya telah keluar. Hal tersebut diungkapkan oleh Kanit Reskrim Polsek Samarinda Kota, Iptu Abdillah Dalimunthe, saat ditemui awak media di ruangannya, Jumat (12/6/2020).

Dalimunthe membeberkan, berdasarkan hasil visum, tim dokter tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh bayi malang tersebut. Sehingga jajaran personil Polsek Samarinda Kota melakukan koordinasi dengan UPTD PPA Kota Samarinda terkait proses penanganannya.

"Untuk sementara kami tindak lanjuti dengan membawa ibu bayi ke UPTD PSKW (Panti Sosial Karya Wanita)H Harapan Mulia," ucap Dalimunthe. Dalimunthe melanjutkan, sang ibu juga akan menjalani konseling oleh psikiater secara berjenjang guna memulihkan kondisinya. Pelaku pun telah menyesali perbuatannya yang tega menyiksa bayinya.

"UPTD PPA Kota Samarinda juga merekomendasikan agar pelaku menjalani rehabilitasi untuk memulihkan kondisi psikisnya," tambahnya.

Terkait kondisi sang bayi, Dalimunthe telah menerima kabar dari RSUD AW Sjahranie bahwa keadaannya mulai berangsur pulih. Selanjutnya, bayi tersebut akan dititip kepada neneknya, sembari berkoordinasi dengan pihak Puskesmas.

"Kami akan terus memantau selama 3 bulan kedepan, mengingat kondisinya yang kekurangan gizi," imbuh perwira balok satu ini.

Senada dengan apa yang disampaikan Dalimunthe, Humas RSUD AW Sjahranie, dr Arysia Andhina menyebutkan bahwa kondisi bayi tersebut perlahan mulai membaik. Meskipun begitu, sang bayi masih perlu menjalani perawatan untuk memulihkan kondisinya.

"Jadi bayi ini diberikan cairan infus setiap harinya, dan dilakukan fototerapi 1×24 jam selama dua hari," ungkap dr Arysia Andhina, Jumat (12/6/2020).

Sesuai prosedurnya, kata wanita yang akrab disapa Sisi ini, pihaknya terus memantau kondisi fisik sang bayi, dan pemeriksaan laboratorium secara berkala. "Kita doakan saja semoga pasien dapat segera sembuh," singkatnya.

Terpisah, Kepala UPTD PPA Kota Samarinda, Said Ahmad menuturkan, pihaknya telah menjadwalkan konseling lanjutan guna memulihkan kondisi sang ibu. "Kemungkinan Senin depan akan kami lanjutkan pemeriksaan. Kami beri dia waktu istirahat karena pelaku masih lemas karena baru saja melahirkan," terang Said Ahmad, Jumat (12/6).

Lebih lanjut, Said Ahmad akan terus menjalin koordinasi dengan unit reskrim Polsek Samarinda Kota mengenai proses hukum dan penanganan terhadap sang ibu. Selain itu, pihaknya juga belum memberikan tanggapan mengenai apakah sang ibu menderita sindrom baby blues. "Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dari psikiater," pungkasnya. (fajar/kpfm)

Kabar Sebelumnya

(0) Komentar


Tinggalkan Komentar