Kami Korban, Dilarang Kok Malah Ngeyel
Kami Korban, Dilarang Kok Malah Ngeyel

Pencarian

  • Feed
,
IMG-20200610-WA0017.jpg

Kami Korban, Dilarang Kok Malah Ngeyel

Keterangan Foto : JANGAN DULU: Warga berharap warga luar untuk tidak memaksa masuk ke wilayah Muara Beloan, karena bisa menambah rusak.
KABAR KUBAR - Pascabanjir, jalan akses dari dan ke Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur rusak berat. Dari 9 kilometer hanya sekitar 4,6 kilometer yang bisa dilintasi. Itupun ada belasan titik badan jalan rusak berlubang. 
Sementara sisa jalan arah ke kampung juga rusak parah.
Hujan hampir setiap hari. Menambah jadi jalan jadi bubur. Warga Muara Beloan terpaksa harus memarkirkan puluhan kendaraan di beberapa titik. Yakni di Muara Sungai Semuyun, kawasan Rengas, dan dekat sungai pengentas. 
Ini terpaksa dilakukan karena tidak bisa memaksa dibawa pulang ke kampung. Jika dipaksa selain merusak kendaraan. Juga menambah merusak badan jalan. Karena ini jalan satu-satunya. Warga sangat menyayangi jangan sampai rusak parah sisa jalan.
Dibalik upaya inilah justru menjadi korban. Senin (8/6/2020), 8 kendaraan, 1 roda empat dan mesin ketiting warga Muara Beloan di kawasan Rengas, malah dirusak dan dibuang ke Sungai Semuyun. Kini masih menjadi penyelidikan polisi. "Karena masih dalam penyelidikan sempat beberapa hari warga luar yang masuk ke Muara Beloan dihentikan dulu. Terpaksa dilakukan dikuatirkan menggangu jalannya penyelidikan oleh polisi. Sebetulnya di kawasan itu dipasang garis polisi," kata Sekdes Muara Beloan Nur Sinta.
Di sisi lain, selain soal penyelidikan polisi juga hujan membuat kondisi jalan masih tanah itu lemah. Sehingga banyak aspirasi warga meminta kepada aparat Kampung Muara Beloan kepada warga luar dihentikan sementara dulu masuk kampung. Jika tidak menambah rusak jalan. "Kami warga Muara Beloan saja menaati. Kok malah warga luar tidak. Tolonglah ini menjadi perhatian. Kini kami sudah korban kendaraan dirusak. Masak jalan juga mau dirusak lagi. Kan ini keterlaluan," terangnya menirukan keluhan warga Muara Beloan.
Jika ada warga luar menyoalkan harus ada peraturan kampung (perkam). Ini tidak perlu. Karena tidak ada aturan melarang warga luar. Namun terpaksa ini dilakukan selain soal penyelidikan polisi dan hujan kondisi jalan, jangan ditambah rusak. "Cuma itu saja tidak ada maksud lain," pungkasnya. Hal senada dikatakan Kepala Adat Muara Beloan Hermadi. 
Terkait masih rusaknya jalan akses ini, pemerintah kampung membuat surat permohonan kepada PT Teguh Sinar Abadi (TSA) dan PT Thiess, subkon PT TSA. Melalui CSR, segera menurunkan alat berat memperbaikinya. "Upaya lisan juga sudah disampaikan oleh bapak kepala Kampung Muara Beloan kepada manajemen PT TSA," kata Madi, panggilan akrab Hermadi. Manajemen PT TSA masih meminta menunggu waktu. Di tengah Covid-19, kekurangan personel lapangan. Intinya pihak perusahaan akan mengupayakan memperbaiki. Karena hal ini salah satu kegiatan CSR, selama ini. Baik PT TSA dan PT Thiess.
Kapolsek Muara Pahu AKP Jumali berjanji menyampaikan keluhan warga Muara Beloan soal jalan rusak kepada Camat Muara Pahu. "Nanti saya akan sampaikan soal rusaknya jalan akses di Kampung Muara Beloan kepada pak Camat," kata Jumali, saat menjawab keluhan Ketua LPM Kampung Muara Beloan Jarhani. Jarhani berharap jalan akses segera ditingkatkan dan diperbaiki. Sehingga warga tidak lagi memarkirkan kendaraan jauh dari kampung atau di Rengas. Keluhan Jarhani disampaikan kepada Kapolsek Muara Pahu AKP Jumali, di acara tatap muka bersama aparat kampung, dan para korban pengrusakan kendaraan di Kantor Kepala Kampung Muara Beloan, Rabu (10/6/2020).
Kapolsek pun meminta menunda rencana pemerintah kampung, dalam pembuatan pos di Rengas. Dikuatirkan akan memunculkan masalah baru. (luk)
 

Kabar Sebelumnya

(0) Komentar


Tinggalkan Komentar