Cemburu di Medsos, Ditangani Polisi
Cemburu di Medsos, Ditangani Polisi

Pencarian

  • Feed
,
Screenshot_20200614-073013_Chrome.jpg

Cemburu di Medsos, Ditangani Polisi

Keterangan Foto : JADI PELAJARAN : Para siswi diapit polisi. Polemik di facebook, karena rebutan cowok. akhirnya saling adu fisik.
image
Kabar Kubar Mahulu
12 Bulan lalu
Peristiwa
331 View
0 Comments
BERITA KUBAR - Kemajuan teknologi dan informasi kini tak hanya dipandang memberikan kemudahan bagi para penggunannya. Tak jarang justru memberi dampak buruk, jika tidak dibatasi. Alhasil, tindak kejahatan melalui media sosial pun marak terjadi. Lebih kejamnya lagi, perilaku kejahatan kini tak mengenal usia. Seperti video yang belum lama ini viral di media sosial. Aksi perkelahian bocah yang masih duduk di bangku SMP. Hal ini kian menjadi sorotan lantaran anak seusia mereka, berani mempertontonkan prilaku kekerasan di jahat media sosial.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda Asli Nuryadin mengaku sudah kehabisan akal menyikapi perkembangan teknologi saat ini. Pasalnya sistem pendidikan di sekolah sudah disesuaikan standar. Termasuk pendidikan akhlak bagi setiap anak.
“Tapi perkembangan teknologi ini, bagai pisau bermata dua,” kata Asli, kepada Samarinda Pos, grup Kaltim Post.

Sebab kejahatan yang marak terjadi saat ini, bagi Asli sebagai dampak buruk kecanggihan teknologi. Khususnya pengguna media sosial yang kerap menjadi sarananya. Bahkan di media sosial pun tak bisa membatasi sejumlah konten, yang patut dipertontonkan oleh anak-anak.
Tak heran banyak orangtua justru menyerahkan anaknya di sekolah. Dengan harapan bisa mendapat pendidikan akhlak dan karakter yang baik.

 

“Ini tidak bisa hanya dari sekolah saja. Kalau mau saya, di sekolah tidak perlu bawa handphone, tapi ini sudah jadi kebutuhan,” tegasnya.
Sehingga, smartphone khusus anak harusnya menjadi kontrol sendiri oleh orangtua. Sedangkan pihak sekolah yang membantu dalam memberikan pendidikan akhlak dan karakter.

“Selebihnya peran orangtua. Karena mereka yang lebih berwenang membatasi penggunaan smartphone anaknya,” jelas Asli. Ia mengakui tantangan dalam dunia pendidikan saat ini memang rumit. Satu sisi, anak-anak dikenalkan dengan teknologi informasi melalui smartphone. Namun tak ada yang bisa membendung, pengaruh buruk dari media sosial maupun informasi lainnya. “Kalau ada aplikasinya, kan tinggal dibeli. Tapi sementara ini kan belum ada. Makanya kembali lagi, peran orangtua dalam mengontrol anaknya,” pungkas Asli. (hun/beb)

 

Kabar Sebelumnya

(0) Komentar


Tinggalkan Komentar