Berhasil Ukir Sejarah Baru, Tari Hudoq 25 Jam
Berhasil Ukir Sejarah Baru, Tari Hudoq 25 Jam

Pencarian

  • Feed
,
IMG-20191025-WA0105.jpg

Berhasil Ukir Sejarah Baru, Tari Hudoq 25 Jam

Keterangan Foto :
image
Kabar Kubar Mahulu
1 Tahun lalu
Wisata
721 View
0 Comments

KABAR MAHULU - Torehan sejarah baru akhirnya terukir kembali di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), menari Ngarang Hudoq selama 25 jam berhasil menarik perhatian Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah memecahkan rekor Muri dengan penari Hudoq terbanyak, lebih dari dua ribu penari. Pesta seni dan budaya dihelat sejak 23-26 Oktober 2019, di Lapangan Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun.

 

Kepada awak media, Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh mengucapkan terimakasih kepada masyarakat 5 kecamatan se-Mahulu telah berjuang mendapat prestasi tersebut. "Animo masyarakat terhadap Festival Hudoq Cross Border kali ini sangat luar biasa," ucap Bonifasius di dampingi Wakil Bupati Yohanes Juan Jenau dan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Kristina Tening. 

 

Bupati menambahkan, jika perhelatan seperti ini terus dilaksanakan maka dapat memajukan kualitas, kuantitas dan manajemen dijadikan sebagai ikon pariwisata di Kabupaten Mahulu. "Dampaknya juga kepada ekonomi kreatif masyarakat," bebernya.

 

Untuk menjaga kelestarian seni dan budaya tersebut, Bupati akan memasukkan tarian Hudoq ke dalam kurikulum sekolah sebagai muatan lokal, mulai di tingkat sekolah dasar (SD). Banyak budaya di Mahulu berpotensi untuk menjadi desrtinasi wisata, juga membangkitkan ekonomi masyarakat.

 

Sementara itu, Presentatif MURI Lutfi Syah Pradana mengatakan, pihaknya mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia maupun dunia, yaitu pagelaran Hudoq tanpa henti, terlama yang dilaksanakan oleh Pemkab Mahulu. “Awalnya hanya diajukan 24 jam. Namun pada hasil verifikasi bersama penari Hudoq berhasil menari selama 25 jam nonstop. Ini luar biasa," terang Lutfi.

 

Dia menjelaskan, prestasi pagelaran Hudoq tanpa henti di Mahulu tersebut, dimulai pukul 19.00 Wita 24 Oktober 2019 sampai dengan pukul 19.00 Wita, Jumat 25 Oktober. “Harapan kami agar kegiatan ini dapat menginspirasi daerah lainnya di Indonesia untuk melestarikan budaya daerah. Ini sifatnya superlativ (teratas, Red),” tutupnya. (luk)

Kabar Sebelumnya

(0) Komentar


Tinggalkan Komentar